Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning)
Kecenderungan abad XXI yang ditandai oleh peningkatan kompleksitas
peralatan teknologi, dan munculnya gerakan restrukturisasi korporatif
yang menekankan kombinasi kualitas teknologi dan manusia, menyebabkan
dunia kerja akan memerlukan orang yang dapat mengambil inisiatif,
berpikir kritis, kreatif, dan cakap memecahkan masalah. Hubungan
“manusia-mesin” bukan lagi merupakan hubungan mekanistik akan tetapi
merupakan interaksi komunikatif yang menuntut kecakapan berpikir tingkat
tinggi.
Kecenderungan-kecenderungan tersebut mulai direspon oleh
dunia pendidikan di Indonesia, yang semenjak tahun 2000 menerapkan
empat pendekatan pendidikan, yakni (1) pendidikan berorientasi kecakapan
hidup (life skills), (2) kurikulum dan pembelajaran berbasis
kompetensi, (3) pembelajaran berbasis produksi, dan (4) pendidikan
berbasis luas (broad-based education). Orientasi baru pendidikan itu
berkehendak menjadikan lembaga pendidikan sebagai lembaga pendidikan
kecakapan hidup, dengan pendidikan yang bertujuan mencapai kompetensi
(selanjutnya disebut pembelajaran berbasis kompetensi), dengan proses
pembelajaran yang otentik dan kontekstual yang dapat menghasilkan produk
bernilai dan bermakna bagi mahasiswa, dan pemberian layanan pendidikan
berbasis luas melalui berbagai jalur dan jenjang pendidikan yang
fleksibel multi-entry-multi-exit (Depdiknas, 2002, 2003).
Oleh
sebab itu secara tidak langsung terbentuk open-ended contextual
activity-based learning, sebagai bagian dari proses pembelajaran yang
memberikan penekanan kuat pada pemecahan masalah yang dihasilkan dari
suatu usaha kolaboratif (Richmond & Striley, 1996), yang dilakukan
dalam proses pembelajaran dalam periode tertentu (Hung & Wong,
2000). Hal ini didefinisikan Blumenfeld et.al. (1991) sebagai model
belajar berbasis proyek (project-based learning) yaitu proses
pembelajaran yang berpusat pada proses relatif berjangka waktu, berfokus
pada masalah, unit pembelajaran bermakna dengan mengitegrasikan
konsep-konsep dari sejumlah komponen pengetahuan, atau disiplin, atau
lapangan studi.
Pendidikan berorientasi kecakapan hidup,
pembelajaran berbasis kompetensi, dan proses pembelajaran yang
diharapkan menghasilkan produk yang bernilai, menuntut lingkungan
belajar yang kaya dan nyata (rich and natural environment), yang dapat
memberikan pengalaman belajar dimensi-dimensi kompetensi secara
integratif. Lingkungan belajar yang dimaksud ditandai oleh:
1.
Situasi belajar, lingkungan, isi dan tugas-tugas yang relevan,
realistik, otentik, dan menyajikan kompleksitas alami “dunia nyata”;
2. Sumber-sumber data primer digunakan agar menjamin keotentikan dan kompleksitas dunia nyata;
3. Mengembangkan kecakapan hidup dan bukan reproduksi pengetahuan;
4. Pengembangan kecakapan ini berada di dalam konteks individual dan melalui negosiasi sosial, kolaborasi, dan pengalaman;
5. Kompetensi sebelumnya, keyakinan, dan sikap dipertimbangkan sebagai prasyarat;
6. Keterampilan pemecahan masalah, berpikir tingkat tinggi, dan pemahaman mendalam ditekankan;
7. Mahasiswa diberi peluang untuk belajar secara apprenticeship di mana
terdapat penambahan kompleksitas tugas, pemerolehan pengetahuan dan
keterampilan;
8. Kompleksitas pengetahuan dicerminkan oleh penekanan belajar pada keterhubungan konseptual, dan belajar interdisipliner;
9. Belajar kooperatif dan kolaboratif diutamakan agar dapat mengekspos mahasiswa ke dalam pandangan-pandangan alternatif; dan
10. Pengukuran adalah otentik dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran (Simons, 1996; Willis, 2000).
Memperhatikan karakteristiknya yang unik dan komprehensif, model
Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning) cukup potensial
untuk memenuhi tuntutan pembelajaran tersebut. Model Pembelajaran
Berbasis Proyek membantu mahasiswa dalam belajar: (1) pengetahuan dan
keterampilan yang kokoh dan bermakna-guna (meaningful-use) yang dibangun
melalui tugas-tugas dan pekerjaan yang otentik (CORD, 2001; Hung &
Wong, 2000; Myers & Botti, 2000; Marzano, 1992); (2) memperluas
pengetahuan melalui keotentikan kegiatan kurikuler yang terdukung oleh
proses kegiatan belajar melakukan perencanaan (designing) atau
investigasi yang open-ended, dengan hasil atau jawaban yang tidak
ditetapkan sebelumnya oleh perspektif tertentu; dan (3) dalam proses
membangun pengetahuan melalui pengalaman dunia nyata dan negosiasi
kognitif antarpersonal yang berlangsung di dalam suasana kerja
kolaboratif.
KONSEP DAN KARAKTERISTIK BELAJAR BERBASIS PROYEK
Belajar berbasis proyek (project-based learning) adalah sebuah model
atau pendekatan pembelajaran yang inovatif, yang menekankan belajar
kontekstual melalui kegiatan-kegiatan yang kompleks (CORD, 2001; Thomas,
Mergendoller, & Michaelson, 1999; Moss & Van-Duzer, 1998).
Fokus pembelajaran terletak pada konsep-konsep dan prinsip-prinsip inti
dari suatu disiplin studi, melibatkan pebelajar dalam investigasi
pemecahan masalah dan kegiatan tugas-tugas bermakna yang lain, memberi
kesempatan pebelajar bekerja secara otonom mengkonstruk pengetahuan
mereka sendiri, dan mencapai puncaknya menghasilkan produk nyata
(Thomas, 2000).
Biasanya memerlukan beberapa tahapan dan beberapa
durasi — tidak sekedar merupakan rangkaian pertemuan kelas— serta
belajar kelompok kolaboratif. Proyek memfokuskan pada pengembangan
produk atau unjuk kerja (performance), yang secara umum pebelajar
melakukan kegiatan: mengorganisasi kegiatan belajar kelompok mereka,
melakukan pengkajian atau penelitian, memecahkan masalah, dan
mensintesis informasi. Proyek seringkali bersifat interdisipliner.
Misalnya, suatu proyek merancang draft untuk bangunan struktur
(konstruksi bangunan tertentu) melibatkan pebelajar dalam kegiatan
investigasi pengaruh lingkungan, pembuatan dokumen proses pembangunan,
dan mengembangkan lembar kerja, yang akan meliputi penggunaan konsep dan
keterampilan yang digambarkan dari matakuliah matematika, drafting
dan/atau desain, lingkungan dan kesehatan kerja, dan mungkin perdagangan
bahan dan bangunan. Menurut Alamaki (1999), proyek selain dilakukan
secara kolaboratif juga harus bersifat inovatif, unik, dan berfokus pada
pemecahan masalah yang berhubungan dengan kehidupan pebelajar atau
kebutuhan masyarakat atau industri lokal.
Pembelajaran Berbasis
Proyek memiliki potensi yang amat besar untuk membuat pengalaman belajar
yang lebih menarik dan bermakna untuk pebelajar usia dewasa, seperti
siswa, apakah mereka sedang belajar di perguruan tinggi maupun pelatihan
transisional untuk memasuki lapangan kerja (Gaer, 1998). Di dalam
Pembelajaran Berbasis Proyek, pebelajar menjadi terdorong lebih aktif di
dalam belajar mereka, instruktur berposisi di belakang dan pebelajar
berinisiatif, instruktur memberi kemudahan dan mengevaluasi proyek baik
kebermaknaannya maupun penerapannya untuk kehidupan mereka sehari-hari.
Produk yang dibuat pebelajar selama proyek memberikan hasil yang secara
otentik dapat diukur oleh guru atau instruktur di dalam pembelajarannya.
Oleh karena itu, di dalam Pembelajaran Berbasis Proyek, guru atau
instruktur tidak lebih aktif dan melatih secara langsung, akan tetapi
instruktur menjadi pendamping, fasilitator, dan memahami pikiran
pembelajar.
Proyek pebelajar dapat disiapkan dalam kolaborasi
dengan instruktur tunggal atau instruktur ganda, sedangkan pebelajar
belajar di dalam kelompok kolaboratif antara 4—5 orang. Ketika pebelajar
bekerja di dalam tim, mereka menemukan keterampilan merencanakan,
mengorganisasi, negosiasi, dan membuat konsensus tentang isu-isu tugas
yang akan dikerjakan, siapa yang bertanggungjawab untuk setiap tugas,
dan bagaimana informasi akan dikumpulkan dan disajikan.
Keterampilan-keterampilan yang telah diidentifikasi oleh pebelajar ini
merupakan keterampilan yang amat penting untuk keberhasilan hidupnya,
dan sebagai tenaga kerja merupakan keterampilan yang amat penting di
tempat kerja. Karena hakikat kerja proyek adalah kolaboratif, maka
pengembangan keterampilan tersebut berlangsung di antara pebelajar. Di
dalam kerja kelompok suatu proyek, kekuatan individu dan cara belajar
yang diacu memperkuat kerja tim sebagai suatu keseluruhan.
Pendekatan Pembelajaran Berbasis Proyek (project-based learning) ini
mirip pendekatan belajar berbasis masalah (problem-based learning) yang
awalnya berakar pada pendidikan medis (kedokteran). Pendidikan medis
menaruh perhatian besar terhadap fenomena praktisi medis muda yang
memiliki pengetahuan faktual cukup tetapi gagal menggunakan
pengetahuannya saat menangani pasien sungguhan (Maxwell, Bellisimo,
& Mergendoller, 1999). Setelah melakukan pengkajian bagaimana tenaga
medis dididik, pendidikan medis mengembangkan program pembelajaran yang
men-cemplung-kan siswa ke dalam skenario penanganan pasien baik
simulatif ataupun sungguhan. Proses ini kemudian dikenal sebagai
pendekatan problem-based learning. Kini, problem-based learning
diterapkan secara luas pada pendidikan medis di negara-negara maju.
Karena kemiripannya itu, dalam literatur istilahnya sering kali
dipertukarbalikkan. Keduanya menekankan lingkungan belajar siswa aktif,
kerja kelompok (kolaboratif), dan teknik evaluasi otentik (authentic
assessment). Perbedaannya terletak pada perbedaan objek. Kalau dalam
problem-based learning pebelajar lebih didorong dalam kegiatan yang
memerlukan perumusan masalah, pengumpulan data, dan analisis data
(berhubungan dengan proses diagnosis pasien); maka dalam project-based
learning pebelajar lebih didorong pada kegiatan desain: merumuskan job,
merancang (designing), mengkalkulasi, melaksanakan pekerjaan, dan
mengevaluasi hasil.
Seperti didefinisikan oleh Buck Institute fo
Education (1999), bahwa belajar berbasis proyek memiliki karakteristik:
(a) pebelajar membuat keputusan, dan membuat kerangka kerja, (b)
terdapat masalah yang pemecahannya tidak ditentukan sebelumnya, (c)
pebelajar merancang proses untuk mencapai hasil, (d) pebelajar
bertanggungjawab untuk mendapatkan dan mengelola informasi yang
dikumpulkan, (e) melakukan evaluasi secara kontinu, (f) pebelajar secara
teratur melihat kembali apa yang mereka kerjakan, (g) hasil akhir
berupa produk dan dievaluasi kualitasnya, dan (i) kelas memiliki
atmosfer yang memberi toleransi kesalahan dan perubahan.
Oakey
(1998) mempertegas konsep dan karakteristik project-based learning
dengan membedakannya dengan problem based learning yang seringkali
saling dipertukarkan dalam penggunaan istilah ini. Istilah project-based
learning dan problem-based larning masing-masing digunakan untuk
menyatakan strategi pembelajaran. Kemiripan konsep kedua pendekatan
pembelajaran itu, dan penggunaan singkatan yang sama, PBL, menghasilkan
kerancuan di dalam leteratur dan penelitian (lihat juga Thomas, 2000),
meskipun sebenarnya di antara keduanya berbeda.
Project-based
learning dan problem-based learning memiliki beberapa kesamaan
karakteristik. Keduanya adalah strategi pembelajaran yang dimaksudkan
untuk melibatkan pebelajar di dalam tugas-tugas otentik dan dunia nyata
agar dapat memperluas belajar mereka. Pebelajar diberi tugas proyek atau
problem yang open-ended dengan lebih dari satu pendekatan atau jawaban,
yang mensimulasikan situasi profesional. Kedua pendekatan ini juga
didefinisikan sebagai student-centered, dan menempatkan peranan guru
sebagai fasilitator. Pebelajar dilibatkan dalam project- atau problem-
based learning yang secara umum bekerja di dalam kelompok secara
kolaboratif, dan didorong mencari berbagai sumber informasi yang
berhubungan dengan proyek atau problem yang dikerjakan.
Pendekatan ini menekankan pengukuran hasil belajar otentik dan dengan basis unjuk kerja (performance-based assessment).
Kebalikan dari pendekatan tradisional yang umumnya bercirikan
apprenticeship, ciri khas strategi Pembelajaran Berbasis Proyek bersifat
kolaboratif (Hung & Chen, 2000; Hung & Wong, 2000). Kegiatan
pembelajaran seperti tersebut mendukung proses konstruksi pengetahuan
dan pengembangan kompetensi produktif pebelajar yang secara aktual
muncul dalam bentuk-bentuk keterampilan okupasional/teknikal (technical
skills), dan keterampilan emploiabiliti sebagai pekerja yang baik
(employability skills). Kegiatan ini berbasis pada konteks kehidupan
sehari-hari pebelajar, baik fisik maupun sosial.
Tidak semua
kegiatan belajar aktif dan melibatkan proyek dapat disebut Pembelajaran
Berbasis Proyek. Berangkat dari pertanyaan “apa yang harus dimiliki
proyek agar dapat digolongkan sebagai Pembelajaran Berbasis Proyek,” dan
keunikan Pembelajaran Berbasis Proyek yang ditemukan dari sejumlah
leteratur dan hasil penelitian, Thomas (2000) menetapkan lima kriteria
apakah suatu pembelajaran berproyek termasuk sebagai Pembelajaran
Berbasis Proyek. Lima kriteria itu adalah keterpusatan (centrality),
berfokus pada pertanyaan atau masalah, investigasi konstruktif atau
desain, otonomi pebelajar, dan realisme.
Proyek dalam
Pembelajaran Berbasis Proyek adalah pusat atau inti kurikulum, bukan
pelengkap kurikulum. Di dalam Pembelajaran Berbasis Proyek, proyek
adalah strategi pembelajaran; pebelajar mengalami dan belajar
konsep-konsep inti suatu disiplin ilmu melalui proyek. Ada kerja proyek
yang mengikuti pembelajaran tradisional dengan cara proyek tersebut
memberi ilustrasi, contoh, praktik tambahan, atau aplikasi praktik yang
diajarkan sebelumnya dengan maksud lain. Akan tetapi, menurut kriteria
di atas, aplikasi proyek tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai
Pembelajaran Berbasis Proyek. Kegiatan proyek yang dimaksudkan untuk
pengayaan di luar kurikulum juga tidak termasuk Pembelajaran Berbasis
Proyek.
Proyek dalam Pembelajaran Berbasis Proyek adalah terfokus
pada pertanyaan atau masalah, yang mendorong pebelajar menjalani
(dengan kerja keras) konsep-konsep dan prinsip-prinsip inti atau pokok
dari disiplin. Kriteria ini sangat halus dan agak susah diraba. Difinisi
proyek (bagi pebelajar) harus dibuat sedemikian rupa agar terjalin
hubungan antara aktivitas dan pengetahuan konseptual yang melatarinya
yang diharapkan dapat berkembang menjadi lebih luas dan mendalam (Baron,
Schwartz, Vye, Moore, Petrosino, Zech, Bransford, & The Cognition
and Technology Group at Vanderbilt, 1998). Biasanya dilakukan dengan
pengajuan pertanyaan-pertanyaan atau ill-defined problem (Thomas, 2000).
Proyek dalam Pembelajaran Berbasis Proyek mungkin dibangun di sekitar
unit tematik, atau gabungan (intersection) topik-topik dari dua atau
lebih disiplin, tetapi itu belum sepenuhnya dapat dikatakan sebuah
proyek. Pertanyaan-pertanyaan yang mengejar pebelajar, sepadan dengan
aktivitas, produk, dan unjuk kerja yang mengisi waktu mereka, harus
digubah (orchestrated) dalam tugas yang bertujuan intelektual
(Blumenfeld, et al., 1991).
Proyek melibatkan pebelajar dalam
investigasi konstruktif. Investigasi mungkin berupa proses desain,
pengambilan keputusan, penemuan masalah, pemecahan masalah, diskoveri,
atau proses pembangunan model. Akan tetapi, agar dapat disebut proyek
memenuhi kriteria Pembelajaran Berbasis Proyek, aktivitas inti dari
proyek itu harus meliputi transformasi dan konstruksi pengetahuan
(dengan pengertian: pemahaman baru, atau keterampilan baru) pada pihak
pebelajar (Bereiter & Scardamalia, 1999). Jika pusat atau inti
kegiatan proyek tidak menyajikan “tingkat kesulitan” bagi anak, atau
dapat dilakukan dengan penerapan informasi atau keterampilan yang siap
dipelajari, proyek yang dimaksud adalah tak lebih dari sebuah latihan,
dan bukan proyek Pembelajaran Berbasis Proyek yang dimaksud.
Membersihkan peralatan laboratorium mungkin sebuah proyek, akan tetapi
mungkin bukan proyek dalam Pembelajaran Berbasis Proyek.
Proyek
mendorong pebelajar sampai pada tingkat yang signifikan. Proyek dalam
Pembelajaran Berbasis Proyek bukanlah ciptaan guru, tertuliskan dalam
naskah, atau terpaketkan. Latihan laboratorium bukanlah contoh
Pembelajaran Berbasis Proyek, kecuali jika berfokus pada masalah dan
merupakan inti pada kurikulum. Proyek dalam Pembelajaran Berbasis Proyek
tidak berakhir pada hasil yang telah ditetapkan sebelumnya atau
mengambil jalur (prosedur) yang telah ditetapkan sebelumnya. Proyek
Pembelajaran Berbasis Proyek lebih mengutamakan otonomi, pilihan, waktu
kerja yang tidak bersifat rigid, dan tanggung jawab pebelajar daripada
proyek trandisional dan pembelajaran tradisoonal.
Proyek adalah
realistik. Karakteristik proyek memberikan keontentikan pada pebelajar.
Karakteristik ini boleh jadi meliputi topik, tugas, peranan yang
dimainkan pebelajar, konteks dimana kerja proyek dilakukan, kolaborator
yang bekerja dengan pebelajar dalam proyek, produk yang dihasilkan,
audien bagi produk-produk proyek, atau kriteria di mana produk-produk
atau unjuk kerja dinilai. Pembelajaran Berbasis Proyek melibatkan
tantangan-tantangan kehidupan nyata, berfokus pada pertanyaan atau
masalah otentik (bukan simulatif), dan pemecahannya berpotensi untuk
diterapkan di lapangan yang sesungguhnya.
Pembelajaran berbasis
proyek bisa menjadi bersifat revolusioner di dalam isu pembaruan
pembelajaran. Proyek dapat mengubah hakikat hubungan antara guru dan
pebelajar. Proyek dapat mereduksi kompetisi di dalam kelas dan
mengarahkan pebelajar lebih kolaboratif daripada kerja sendiri-sendiri.
Proyek juga dapat menggeser fokus pembelajaran dari mengingat fakta ke
eksplorasi ide.
DUKUNGAN TEORETIK PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK
Pembelajaran Berbasis Proyek atau Belajar Berbasis Proyek adalah
pendekatan pembelajaran yang merangkum sejumlah ide-ide pembelajaran,
yang didukung oleh teori-teori dan penelitian substansial. Bagian ini
mencoba mengetengahkan bahasan teoretik yang mendasari Pembelajaran
Berbasis Proyek. Menurut Mayer (1992), dalam praktik pendidikan,
terutama setengah abad terakhir, telah terjadi pergeseran teori-teori
belajar, dari aliran teori belajar behavioristik ke kognitif, dari
kognitif ke konstruktivistik.
Implikasi pergeseran pandangan
terhadap belajar dan pembelajaran tersebut adalah munculnya pandangan
bahwa kurikulum sebagai body of knowledge atau keterampilan-keterampilan
yang ditransfer adalah naif. Jika pandangan konstruktivis mengenai
individu sebagai pengkonstruk pengetahuan mereka sendiri dapat diterima,
maka mungkin lebih tepat memandang kurikulum sebagai serangkaian tugas
dan strategi belajar. Oleh karena itu, perspektif kehidupan kelas pun
menjadi berubah. Hakekat hubungan guru-siswa tidak lagi guru sebagai
penjaja informasi dan siswa sebagai penerima informasi semata, tetapi
guru lebih sebagai pembimbing dan pendamping berpikir kritis yang
konstruktif. Lingkungan kelas dirancang untuk memberikan setting sosial
yang mendukung konstruksi pengetahuan dan keterampilan (Driver &
Leach, 1993).
Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan model
pembelajaran yang didukung oleh atau berpijak pada teori belajar
konstruktivistik. Strategi pembelajaran yang menonjol dalam pembelajaran
konstruktivistik antara lain adalah strategi belajar kolaboratif,
mengutamakan aktivitas siswa daripada aktivitas guru, mengenai kegiatan
laboratorium, pengalaman lapangan, studi kasus, pemecahan masalah, panel
diskusi, diskusi, brainstorming, dan simulasi (Ajeyalemi, 1993).
Beberapa dari strategi tersebut juga terdapat dalam Pembelajaran
Berbasis Proyek, yaitu (a) strategi belajar kolaboratif, (b)
mengutamakan aktivitas siswa daripada aktivitas guru, (c) mengenai
kegiatan laboratorium, (d) pengalaman lapangan, (e) dan pemecahan
masalah. Peranan guru yang utama adalah mengendalikan ide-ide dan
interpretasi siswa dalam belajar, dan memberikan alternatif-alternatif
melalui aplikasi, bukti-bukti, dan argumen-argumen.
Dari berbagai
karakteristiknya, Pembelajaran Berbasis Proyek didukung teori-teori
belajar konstruktivistik. Dalam konteks pembaruan di bidang teknologi
pembelajaran, Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dipandang sebagai
pendekatan penciptaan lingkungan belajar yang dapat mendorong pebelajar
mengkonstruk pengetahuan dan keterampilan melalui pengalaman langsung.
Proyek dalam Pembelajaran Berbasis Proyek dibangun berdasarkan ide-ide
pebelajar sebagai bentuk alternatif pemecahan masalah riil tertentu, dan
pebelajar mengalami proses belajar pemecahan masalah itu secara
langsung.
Menurut banyak literatur, konstruktivisme adalah teori
belajar yang bersandar pada ide bahwa pebelajar mengkonstruk pengetahuan
mereka sendiri di dalam konteks pengalaman mereka sendiri (Murphy,
1997; Brook & Brook, 1993, 1999; Driver & Leach, 1993; Fraser,
1995). Pembelajaran konstruktivistik berfokus pada kegiatan aktif
pebelajar dalam memperoleh pengalaman langsung (“doing”), ketimbang
pasif “menerima” pengetahuan. Dari perspektif konstruktivis, belajar
bukanlah murni fenomena stimulus-respon sebagaimana dikonsepsikan para
behavioris, akan tetapi belajar adalah proses yang memerlukan pengaturan
diri sendiri (self-regulation) dan pembangunan struktur konseptual
melalui refleksi dan abstraksi (von Glaserfeld, dalam Murphy, 1997).
Kegiatan nyata yang dilakukan dalam proyek memberikan pengalaman belajar
yang dapat membantu refleksi dan mendekatkan hubungan aktivitas dunia
nyata dengan pengetahuan konseptual yang melatarinya yang diharapkan
akan dapat berkembang lebih luas dan lebih mendalam (Barron, Schwartz,
Vye, Moore, Petrosino, Zech, Bransford, & The Cognition and
Technology Group at Vanderbilt, 1998). Hal ini menunjukkan bahwa
Pembelajaran Berbasis Proyek, yang mendasarkan pada aktivitas dunia
nyata, berpotensi memperluas dan memperdalam pengetahuan konseptual dan
prosedural (Gagne, 1985), yang pada khasanah lain disebut juga knowing
that dan knowing how (Wilson, 1995). Knowing ‘that’ and ‘how’ is not
sufficient without the disposition to ‘do’ (Kerka, 1997). Perluasan dan
pendalaman pemahaman pengetahuan tersebut dapat diamati dengan mengukur
peningkatan kecakapan akademiknya.
Prinsip-prinsip Pembelajaran
Berbasis Proyek juga dilandasi oleh teori belajar konstruktif. Menurut
Simons (1996) belajar konstruktif harus dilakukan dengan menumbuhkan
upaya siswa membangun representasi memori yang kompleks dan kaya, yang
menunjukkan tingkat terhubungan yang kuat antara pengetahuan semantik,
episodik, dan tindakan. Sebagaimana dinyatakan Simons (1996),
representasi memori terbagi menjadi tiga jenis: representasi semantik,
episodik, dan tindakan. Representasi semantik mengacu pada konsep dan
prinsip dengan karakteriktik yang menyertainya, representasi episodik
didasarkan pada pengalaman personal dan afektif, dan representasi
tindakan mengacu pada hal-hal yang dapat dilakukan dengan menggunakan
informasi semantik dan episodik, misalnya penyelesaian jenis masalah
tertentu, dengan menggunakan pengetahuan tertentu. Idealnya, hubungan
antar tiga jenis representasi pengetahuan tersebut kuat. Oleh karena
itu, prinsip belajar konstruktif adalah menekankan usaha keras untuk
menghasilkan keterhubungan tiga jenis representasi pengetahuan tersebut.
Prinsip belajar konstruktif tersebut juga mendasari Pembelajaran
Berbasis Proyek. Bagian-bagian dari prinsip belajar konstruktif seperti
belajar yang berorientasi pada diskoveri, kontekstual, berorientasi
masalah, dan motivasi sosial juga menjadi bagian-bagian prinsip
Pembelajaran Berbasis Proyek. Strategi belajar kolaboratif yang
diposisikan amat penting dalam Pembelajaran Berbasis Proyek juga menjadi
tekanan teoretik belajar konstruktif. Learning together with other
learners can be a very powerful form of learning, in which learners help
each other’s construction processes (Simons, 1996:294).
Strategi
belajar kolaboratif tersebut juga dilandasi oleh teori Vygotsky tentang
Zone of Proximal Development (ZPD). Vygotsky merekomendasikan adanya
level atau zona, di mana siswa dapat lebih berhasil tetapi dengan
bantuan partner yang lebih bisa atau berpengalaman. Vygotsky
mendifinisikan ZPD sebagai “jarak antara tingkat perkembangan aktual
seperti ditunjukkan oleh kemampuan memecahkan masalah secara mandiri
dengan tingkat perkembangan potensial seperti ditunjukkan oleh kemampuan
pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau kolaborasi
dengan teman sebaya yang lebih mampu (the distance between the actual
development level as determined by independent problem-solving and the
level of potential development as determined through problem-solving
under adult guidance or in collaboration with more capable peers)
(Gipps, 1994:24—25). Partner ini tidak mendekte apa yang harus dilakukan
sejawat yang belajar padanya, akan tetapi mereka terlibat di dalam
tindakan kolaboratif, demonstratif, modeling dan sejenisnya.
Prinsip
kontekstualisasi yang menjadi karakteristik penting dalam Pembelajaran
Berbasis Proyek, diturunkan dari ide dasar teori belajar
konstruktivistik. Para konstruktivis mengatakan bahwa belajar adalah
proses aktif membangun realitas dari pengalaman belajar. Bagaimana pun,
belajar tidak dapat terlempas dari apa yang sudah diketahui pebelajar
dan konteks di mana hal itu dipelajari (Bednar, Cunningham, Duffy, &
Perry, dalam Dunn, 1994). Para konstruktivis itu tidak menyangkal
eksistensi (objektivitas) dunia nyata, akan tetapi dikatakannya bahwa
makna apa yang kita bangun dari dunia nyata adalah indiosyncratic. Tidak
ada dua orang yang membangun makna yang sama, karena kombinasi
pengalaman dan pengetahuan sebelumnya akan menghasilkan interpretasi
yang berbeda. Atas dasar keyakinan tersebut direkomendasikan bahwa
pembelajaran perlu diletakkan dalam konteks yang kaya yang merefleksikan
dunia nyata, dan berhubungan erat dengan konteks di mana pengetahuan
akan digunakan. Singkatnya, pembelajaran perlu otentik. Seperti telah
diuraikan di bagian depan, Pembelajaran Berbasis Proyek adalah salah
satu model pembelajaran yang berlatar dunia otentik.
Jonassen
(1991), dan Brown, Collins dan Duguid (1988) juga berpendapat bahwa
belajar terjadi secara lebih efektif di dalam konteks, dan bahwa konteks
menjadi bagian penting dari basis pengetahuan yang berhubungan dengan
proses belajar tersebut. Implikasinya di dalam pembelajaran adalah
penciptaan lingkungan belajar yang riil, otentik dan relevan sebagai
konteks belajar tertentu. Guru dan model pembelajaran yang diciptakannya
berfokus pada pendekatan realistik yang memudahkan siswa belajar
memecahkan masalah dunia nyata (Jonassen, 1991). Lingkungan belajar
konstruktivistik yang dimaksud adalah: “a place where learners may work
together and support each other as they use a variety of tools and
information resources in their pursuit of learning goals and
problem-solving activities (Wilson, 1995:27). Pembelajaran Berbasis
Proyek juga merupakan pendekatan menciptakan lingkungan belajar yang
realistik, dan berfokus pada belajar memecahkan masalah-masalah yang
terjadi di dunia nyata.
Pembelajaran Berbasis Proyek juga didukung
oleh teori belajar eksperiensial. Seperti dikatakan William James bahwa
belajar yang paling baik adalah melalui aktivitas diri sendiri,
pengalaman sensoris adalah dasar untuk belajar, dan belajar yang efektif
adalah holistik, dan interdisipliner (dalam Moore, 1999).
Prinsip-prinsip ini juga diterapkan dalam Pembelajaran Berbasis Proyek.
Pebelajar mengendalikan belajarnya sendiri, mulai dari
pengidentifikasian masalah yang akan dijadikan proyek sampai dengan
mengevaluasi hasil proyek. Guru/dosen berperan sebagai pembimbing,
fasilitator, dan partner belajar. Tema proyek yang dipilih juga bersifat
interdisipliner, karena mengandung unsur berbagai disiplin yang
dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah dalam proyek yang dikerjakan itu.
Apa yang dilakukan pebelajar dalam proses pembelajaran adalah
pengalaman-pengalaman sensoris sebagai basis belajar. Ditegaskan oleh
John Dewey bahwa pengalaman adalah elemen kunci dalam proses
pembelajaran (Moore, 1999; Knoll, 2002). Dewey memandang belajar sebagai
“process of making determinate the indeterminate experience”. Makna
dari berbagai pengalaman adalah sebuah hubungan yang saling tergantung
antara apa yang dibawa oleh pebelajar dalam situasi belajar dan apa yang
terjadi di dalam situasi itu. Berdasarkan pengetahuan yang diturunkan
dari pengalaman sebelumnya, pada pengalaman baru orang membangun
pengetahuan baru (Billet, 1996). Kerja proyek dapat dipandang sebagai
proses belajar memantapkan pengalaman yang belum mantap, memperluas
pengetahuan yang belum luas, dan memperhalus pengetahuan yang belum
halus, sebagaimana juga dikatakan oleh Marzano (1992) bahwa belajar
melalui pengalaman nyata (misalnya, investigasi dan pemecahan
masalah-masalah nyata) dapat memperluas dan memperhalus pengetahuan.
Berdasarkan teori-teori belajar konstruktivistik yang dirujuk di atas,
maka Pembelajaran Berbasis Proyek dapat disimpulkan memiliki
kelebihan-kelebihan sebagai lingkungan belajar: (1) otentik-kontekstual
(goal-directed activities) yang akan memperkuat hubungan antara
aktivitas dan pengetahuan konseptual yang melatarinya; (2) mengedepankan
otonomi pebelajar (self-regulation) dan guru/dosen sebagai pembimbing
dan partner belajar, yang akan mengembangkan kemampuan berpikir
produktif; (3) belajar kolaboratif yang memberi peluang pebelajar saling
membelajarkan yang akan meningkatkan pemahaman konseptual maupun
kecakapan teknikal; (4) holistik dan interdisipliner; (5) realistik,
berorientasi pada belajar aktif memecahkan masalah riil, yang memberi
kontribusi pada pengembangan kecakapan pemecahan masalah; dan (6)
memberikan reinforcement intrinsik (umpan balik internal) yang dapat
menajamkan kecakapan berpikir produktif.
KEUNTUNGAN BELAJAR BERBASIS PROYEK
Moursund, Bielefeldt, & Underwood (1997) meneliti sejumlah artikel
tentang proyek di kelas yang dapat dipertimbangkan sebagai bahan
testimonial terhadap guru, terutama bagaimana guru menggunakan proyek
dan persepsi mereka tentang bagaimana keberhasilannya. Atribut
keuntungan dari Belajar Berbasis Proyek adalah sebagai berikut:
Meningkatkan motivasi. Laporan-laporan tertulis tentang proyek itu
banyak yang mengatakan bahwa siswa suka tekun sampai kelewat batas
waktu, berusaha keras dalam mencapai proyek. Guru juga melaporkan
pengembangan dalam kehadiran dan berkurangnya keterlambatan. Siswa
melaporkan bahwa belajar dalam proyek lebih fun daripada komponen
kurikulum yang lain.
Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah.
Penelitian pada pengembangan keterampilan kognitif tingkat tinggi siswa
menekankan perlunya bagi siswa untuk terlibat di dalam tugas-tugas
pemecahan masalah dan perlunya untuk pembelajaran khusus pada bagaimana
menemukan dan memecahkan masalah. Banyak sumber yang mendiskripsikan
lingkungan belajar berbasis proyek membuat siswa menjadi lebih aktif dan
berhasil memecahkan problem-problem yang kompleks.
Meningkatkan
kecakapan kolaboratif. Pentingnya kerja kelompok dalam proyek memerlukan
siswa mengembangkan dan mempraktikkan keterampilan komunikasi (Johnson
& Johnson, 1989). Kelompok kerja kooperatif, evaluasi siswa,
pertukaran informasi online adalah aspek-aspek kolaboratif dari sebuah
proyek. Teori-teori kognitif yang baru dan konstruktivistik menegaskan
bahwa belajar adalah fenomena sosial, dan bahwa siswa akan belajar lebih
di dalam lingkungan kolaboratif (Vygotsky, 1978; Davydov, 1995).
Meningkatkan keterampilan mengelola sumber. Bagian dari menjadi siswa
yang independen adalah bertanggungjawab untuk menyelesaikan tugas yang
kompleks. Pembelajaran Berbais Proyek yang diimplementasikan secara baik
memberikan kepada siswa pembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi
proyek, dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperti
perlengkapan untuk menyelesaikan tugas.
Ketika siswa bekerja di
dalam tim, mereka menemukan keterampilan merencanakan, mengorganisasi,
negosiasi, dan membuat konsensus tentang isu-isu tugas yang akan
dikerjakan, siapa yang bertanggungjawab untuk setiap tugas, dan
bagaimana informasi akan dikumpulkan dan disajikan.
Keterampilan-keterampilan yang telah diidentifikasi oleh siswa ini
merupakan keterampilan yang amat penting untuk keberhasilan hidupnya,
dan sebagai tenaga kerja merupakan keterampilan yang amat penting di
tempat kerja kelak. Karena hakikat kerja proyek adalah kolaboratif, maka
pengembangan keterampilan tersebut berlangsung di antara siswa. Di
dalam kerja kelompok suatu proyek, kekuatan individu dan cara belajar
yang diacu memperkuat kerja tim sebagai suatu keseluruhan.
terimakasih sudah membaca, semoga bermenfaat bagi anda sekalian, salam sejahtera NORJIMANSYAH
Tidak ada komentar:
Posting Komentar